Senin, 14 September 2009

Materi Kesehatan: Taksiran Berat Badan Janin (TBBJ)

Taksiran Berat Badan Janin (TBBJ)
PERBANDINGAN AKURASI TAKSIRAN BERAT BADAN JANIN MENGGUNAKAN RUMUS JOHNSON TOHSACH DENGAN MODIFIKASI RUMUS JOHNSON MENURUT SYAHRIR
Julianty K, Yola N, Azis Z, Pangemanan TP, Theodorus
ABSTRAK
Tujuan: membandingkan akurasi rumus Johnson dan modifikasi rumus Johnson menurut Syahrir untuk menaksir berat badan janin.
Desain dan metode: penelitian ini berupa studi komparatif yang membandingkan antara kelompok yang menggunakan rumus Johnson yang menggunakan pita nonelastik dengan kelompok modifikasi rumus Johnson menurut Syahrir yang menggunakan jangka panggul. Populasi penelitian adalah ibu hamil yang akan melahirkan di bagian obgyn FK unsri RSMH Palembang, dengan jumlah sampel 263 orang. Penelitian ini dilakukan dari Februari 2005 sampai September 2006. Perbandingan angka rata-rata dianalisis dengan t test dan korelasi ketepatan penaksiran berat badan janin dengan chi-square. Interval kepercayaan 95%.
Hasil: dari 263 sampel didapatkan taksiran berat janin dengan rumus Johnson dan modifikasi Johnson-Syahrir yang akurat sebanyak 160 responden (60,8%) dan tidak akurat sebanyak 66 responden (25,1%). Untuk responden yang akurat pada rumus Johnson dan tidak akurat pada rumus modifikasi ada 186 responden (70,7%) atau sebaliknya sebesar 171 responden (65%). Nilai sensitivitas diperoleh sebesar 86,02%, spesifisitas 85,71%. Nilai perkiraan positif dan negative sebesar 93.57% dan 71,74%. Nilai kappa 67,9%. Tampak perbedaan bermakna antara taksiran berat janin dengan rumus Johnson dan rumus modifikasi dibanding dengan berat badan lahir sebenarnya (p
Kesimpulan: rumus Johnson lebih baik sebab memiliki akurasi lebih tinggi (70,7%) dibanding modifikasi rumus Johnson-Syahrir (65%) prinsip kehati-hatian perlu ditingkatkan dalam mengukur tinggi fundus uteri untuk menaksir berat badan janin.
Kata kunci: taksiran berat janin, rumus Johnson, modifikasi rumus Johnson-Syahrir
I. LATAR BELAKANG
Kematian perinatal pada kelahiran dengan berat badan rendah dan kesakitan akibat berat badan lahir yang besar merupakan suatu masalah tersendiri dalam kesehatan perinatal dan penatalaksanaan persalinan. Taksiran berat badan janin (TBJ) intra uterin mempunyai arti penting dalam penatalaksanaan persalinan. Ketepatan penaksiran berat badan lahir, baik secara pengukuran tinggi fundus uteri (TFU) ataupun cara lainnya akan mempengaruhi ketepatan penatalaksanaan persalinan dan hasilnya sehingga diharapkan dapat mengurangi kematian dan kesakitan pada persalinan1,2
Bagi penolong persalinan seperti bidan, berat badan bayi mempunyai arti yang sangat penting dalam menentukan saat rujukan, sedangkan bagi obstetrikus, taksiran berat badan bayi sangat dirasakan kepentingannya saat harus memutuskan tindakan induksi persalinan ataupun resiko sesaria yang direncanakan. Terdapat berbagai cara untuk menentukan taksiran berat badan anak, yaitu : dengan palpasi uterus, pemeriksaan ultrasonografi, dengan pengukuran diameter biparietal, pengukuran tinggi fundus uteri maupun pengukuran lingkaran perut.3,4,5
Penaksiran berat janin dalam suatu persalinan masih dipandang perlu oleh banyak ahli kebidanan, juga para peneliti kesehatan masyarakat.6-12 Meskipun demikian, belum ada suatu metoda pun yang berhasil membuat taksiran berat badan janin tepat.11 Di beberapa rumah sakit termasuk RSMH Palembang, masih dilakukan taksiran berat badan janin intra uterin dengan pengukuran tinggi fundus uteri . Ketepatan taksiran berat badan janin baik melalui pengukuran tinggi fundus uteri ataupun cara lain akan mempengaruhi penatalaksanaan persalinan.13-16
Pengukuran tinggi fundus uteri secara tepat dilakukan lebih objektif dengan skala sentimeter.4,6,7,8 Tinggi fundus uteri mempunyai hubungan yang kuat dan bermakna dengan berat badan bayi dan merefleksikan pertumbuhan janin serta ukuran fetus lebih akurat.1
Pada penelitiannya, Zulkarnain menemukan tinggi fundus uteri adalah 28 sampai 40 cm, terbanyak adalah 32 cm (21%) dengan rata-rata 32,4 ± 2,28 cm dimana berat badan bayi berkisar antara 2200 – 4200 gram dengan rata-rata berat 3027 ± 364 gram, terbanyak 3000 gram (44,1%)
Pada penelitian Firmansyah, rumus Johnson memiliki akurasi yang lebih tinggi dibanding modifikasi rumus Niswander dalam melakukan taksiran berat badan lahir (70% : 29,5%) dengan nilai p = 0,001 dengan selisih berat yang lebih kecil (164,26 ± 268,23 gram : 282,26 ± 263,62 gram) dan pada masing-masing tinggi fundus uteri 28 cm sampai 36 cm memiliki akurasi yang lebih baik.23
Johnson dan Toshach (1954) menggunakan suatu metode untuk menaksir berat janin dengan pengukuran (TFU) tinggi fundus uteri, yaitu mengukur jarak antara tepi atas simfisis pubis sampai puncak fundus uteri dengan mengikuti lengukungan uterus, memakai pita pengukur serta melakukan pemeriksaan dalam (vaginal toucher) untuk mengetahui penurunan bagian terendah. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pengukuran atau taksiran dan diperkirakan tidak dapat dikoreksi seperti tumor rahim, hidramnion, plasenta previa, kehamilan ganda dikeluarkan dari penelitian, sedangkan obesitas, paritas, kondisi selaput ketuban, penurunan bagian terbawah janin (station), posisi dan presentasi janin diperhitungkan secara statistik. Rumus yang dikemukakan adalah :
W (gram)=(tinggi fundus uteri – station) ´ 155
Untuk station minus = 13, untuk station nol = 12, dan untuk station plus = 11.
Syahrir dan kawan-kawan pada tahun 2001 di Makasar melakukan pengukuran dengan mendapatkan modifikasi rumus Johnson yang disederhanakan oleh Niswander. Dalam mendapatkan rumus tersebut, Syahrir dan kawan-kawan melakukan penelitian dengan menggunakan jangka panggul terhadap 100 ibu-ibu inpartu yang akan melahirkan di kamar bersalin RSB Siti Fatimah yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi dengan presentasi kepala untuk mencari modifikasi rumus Johnson. Dari hasil yang diteliti, didapatkan rata-rata tinggi fundus adalah 27,3 cm dengan rata-rata berat badan lahir anak 3194,1 gram dan rata-rata berat badan lahir anak menurut Johnson 2163,7 gram. Kesalahan rata-rata berat lahir anak yaitu 1030 gram, sehingga rumus Johnson dimodifikasi ke dalam bentuk :
TBBJ=(TFU – 13) 151 + 1030 gram
Rumus inilah akan digunakan pada penelitian ini yang akan dibandingkan dengan rumus Johnson Toshack yang biasa digunakan di RSMH Palembang.
II.METODE PENELITIAN
Desain penelitian ini berupa uji diagnostik yang membandingkan antara kelompok yang menggunakan rumus Johnson yang menggunakan pita non elastik dengan kelompok modifikasi rumus Johnson menurut Syahrir yang menggunakan jangka panggul.
Penelitian ini dilakukan di kamar bersalin Bagian Kebidanan dan Penyakit Kandungan RSMH Palembang. Penelitian dilaksanakan selama satu setengah tahun, mulai tanggal 28 pebruari 2005 sampai tanggal 6 september 2006. Sampel diambil dengan cara consecutive sampling dari populasi yang telah setuju diikutsertakan dalam penelitian dan ditentukan berdasarkan proporsi dan populasi. Selama penelitian sampel yang terkumpul sebanyak 263 responden.
Pada subyek yang telah memenuhi kriteria penelitian dilakukan anamneis yang mencakup identitas, tanggal hari pertama haid terakhir (HPHT), riwayat obstetrik (GPA), riwayat penyakit/operasi yang pernah diderita, umur, berat badan dan tinggi badan juga dicatat, bila curiga adanya kelainan dilakukan pemeriksaan lanjut untuk mendiagnosanya (seperti hidramnion dilakukan pemeriksaan USG) atau akan dikeluarkan sebagai kriteria ekslusi. Pengukuran tinggi fundus uteri, dilakukan dengan menggunakan pita non elastik dan jangka panggul. Ibu yang berada dalam posisi berbaring terlentang dengan kedua kaki membujur lurus ke bawah. Kandung kencing dalam keadaan kosong dan fundus uteri dibawa ke tengah (bila sumbu panjang janin, uterus dan sumbu panjang ibu tidak berada pada satu garis). Pengukuran dilakukan dengan uterus dalam keadaan relaksasi mulai dari atas fundus uteri ke batas atas simpisis pubis dan sebaliknya, mengikuti lengkung dinding perut masing-masing dengan pita sentimeter dan jangka panggul menempel pada dinding luar perut. Hasil pengukuran dicatat dalam satuan sentimeter. Angka 0,5 > dibulatkan ke atas.
Hasil pengukuran dicatat dalam satuan sentimeter dan berat badan janin ditaksir dengan mempergunakan rumus Johnson :
TBBJ=(TFU– 13) 155 gram (menggunakan pita non elastik)
Dibandingkan dengan modifikasi rumus Johnson menurut Syahrir :
TBBJ=(TFU– 13) 151 + 1030 gram (menggunakan jangka panggul)
III. HASIL
Berdasarkan nilai rerata taksiran berat badan bayi lahir menggunakan rumus Johnson lebih mendekati berat badan lahir sebenarnya dibandingkan dengan modifikasi rumus Johnson-Syahrir dan secara keseluruhan rerata tingkat akurasi rumus Johnson lebih tinggi dibandingkan modifikasi rumus Johnson-Syahrir dan secara statistik ada perbedaan bermakna antara taksiran berat badan bayi menggunakan rumus Johnson dengan modifikasi rumus Johnson-Syahrir (p=0,000).
Pada perhitungan berat badan lahir dengan rumusJohnson yang menggunakan pita non elastik, error terkecil dari berat badan bayi lahir adalah pada tinggi fundus uteri 32 cm (SD = 244,12 SE = 33,23 95% CI = 3057,99-3188,21) danerror terbesar adalah pada tinggi fundus uteri 36 cm (SD = 318,85 SE = 130,17 95% CI = 3228,20-3738,46). Hal ini dijabarkan dalam tabel 1 di bawah ini.
Tabel 1.Berat badan bayi lahir menurut tinggi fundus uteri Johnson pada kehamilan cukup bulan, tunggal, letak memanjang dan presentasi kepala (n=263)
Tinggi fundus uteri Johnson
N
Berat badan bayi lahir (g)
Range
Mean
SD
SE Mean
95% Confidence Interval
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
40
12
42
46
26
44
40
24
17
9
1
1
1
2300-3000
2350-3200
2300-3400
2600-3500
2500-3600
2700-3600
2900-3600
3000-4200
3400-3900
3720,00
3875,00
4185,00
2604,17
2897,62
2780,43
2988,46
3129,55
3173,75
3322,92
3485,29
3588,89
3720,00
3875,00
4185,00
193,60
360,71
235,57
245,88
218,69
210,30
175,06
299,87
176,38
-
-
-
55,88
55,66
34,73
48,22
32,97
33,25
35,73
72,73
58,79
-
-
-
2481,16-2727,17
2785,21-3010.03
2710,48-2850,39
2899,14-3087,78
3063,06-3196,03
3106,49-3241,01
3248,99-3396,84
3331,11-3639,48
3453,31-3724,47
-
-
-
Pada table 2 digambarkanperhitungan berat badan lahir dengan menggunakan jangka panggul atau rumus modifikasi Johnson - Syahrir yang ditunjukkan pada tabel 16 bahwa error terkecil dari berat badan bayi lahir adalah pada tinggi fundus uteri Johnson-Syahrir 27 cm (SD = 200,71 SE = 33,92 95% CI = 3078,20-3216,09). Error terbesar ada pada tinggi fundus uteri 31 cm (SD=250,99 SE=112,25 95%CI=3228,34-3851,66).
Tinggi fundus uteri Johnson-Syahrir
N
Berat badan bayi lahir (g)
Range
Mean
SD
SE Mean
95% Confidence Interval
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
34
20
28
26
35
40
30
35
23
16
4
5
1
2500-3500
2300-3500
2350-3800
2300-3400
2300-3600
2500-3500
2700-3600
2900-3900
3000-4200
3300-3900
3300-3900
4201,00
2950,00
2848,21
2917,31
2845,71
3005,00
3090,00
3147,14
3326,09
3471,88
3625,00
3540,00
4201,00
301,74
329,27
390,88
268,53
315,57
261,42
200,71
227,07
150,00
150,00
250,99
-
67,47
62,27
76,65
45,39
49,89
47,73
33,92
47,34
72,73
75,00
112,25
-
2808,78-3091,22
2720,53-2975,89
2759,43-3075,19
2753,47-2937,96
2904,07-3105,93
2992,38-3187,62
3078,20-3216,09
3227,89-3424,28
3316,83-3626,92
3386,32-3863,68
3228,34-3851,66
-
Tabel 2. Berat badan bayi lahir menurut tinggi fundus uteri Johnson-Syahrir pada kehamilan cukup bulan, tunggal, letak memanjang dan presentasi kepala (n=263)
Semakin tinggi fundus uteri mempengaruhi error atau penyimpangan berat badan bayi lahir (p = 0,024)12. Dari perhitungan statistik dengan regresi linier sederhana didapat hubungan tinggi fundus uteri Johnson dengan berat badan bayi lahir dimananilai koefisien regresi untuk TFU Johnson sebesar 106,781. Hal ini berarti bahwa setiap kenaikkan TFU sebesar 1 cm akan menaikkan berat badan bayi lahir ± 106,781 gr.
Gambar 1. Diagram scatterhubungan tinggi fundus uteri Johnson dengan berat badan bayi pada responden
Sedangkan perhitungan statistik tinggi fundus uteri dengn metode pengukuran Johnson-Syahrir terhadap berat badan bayi mendapatkannilai koefisien regresisebesar 73,889. Hal ini berarti bahwa setiap kenaikkan TFU sebesar 1 cm akan menaikkan berat badan bayi lahir ± 73,889 gr.
Gambar 2. Diagram scatterhubungan tinggi fundus uteri Johnson-Syahrir dengan berat badan bayi pada responden
Berdasarkan hubungan tinggi fundus uteri dengan berat badan bayi lahir dapat dikatakan bahwa pengukuran tinggi fundus uteri Johnson memiliki hubungan yang sangat kuat dibandingkan Johnson-Syahrir dikarenakan besaran pengaruh variabel TFU Johnson lebih tinggi dari TFU Johnson-Syahrir.
Dari 263 ibu hamil dilakukan pengujian sensitivitas, spesifisitas, angka perkiraan positif dan angka perkiraan negatif taksiran berat badan lahir menurut rumus Johnson dan modifikasi rumus Johnson-Syahrir terhadap berat badan lahir sebenarnya. Dikatakan akurat jika tingkat kesalahan yang diperoleh 7
Tabel3.Nilai diagnostik pengukuran tinggi fundus uteri terhadap berat badan bayilahir


Rumus Jhonson
Jumlah


Akurat
Tidak Akurat
Modifikasi rumus Johnson-Syahrir
Akurat
Tidak akurat
160
26
11
66
171
92

Jumlah
186
77
263
Nilai sensitivitas yang diperoleh sebesar 86,02%, nilai spesifisitas sebesar 85,71% serta nilai perkiraan positif dan negative sebesar 93,57% dan 71,74%. Nilai kappa yang diberikan sebesar 67,9%. Nilai ini dapat menerangkan kesesuaian penghitungan taksiran berat badan bayi lahir dengan menggunakan rumus Johnson dibandingkan dengan modifikasi rumus Johnson Syahrir.
Pada tabel 4 digambarkananalisis statistik taksiran berat badan lahir menurut rumus Johnson dan modifikasi rumus Johson-Syahrir untuk berat badan lahir keseluruhan (n=263) dengan menggunakan uji t test. Hasilyng diperoleh menunjukkanperbedaan yang bermakna antara taksiran berat badan bayi lahir dengan menggunakan rumus Johnson dan modifikasi rumus Johnson-Syahrir dengan berat badan lahir sebenarnya (p
Variabel
Mean (gr)
SD
P
BBL
Johnson
Modifikasi rumus Johnson-Syahrir
BBL – Johnson
BBL – Modifikasi rumus Johnson-Syahrir
SAE – Johnson
SAE – Modifikasi rumus Johnson-Syahrir
Akurasi Johnson
Akurasi Modifikasi rumus Johnson-Syahrir
3061,98
2887,24
2865,54
174,73
196,43
0,05
0,06
70,70%
65,00%
350,87
345,46
384,47
279,31
355,33
0,08
0,11
0,048*
0,095*
0,000**
Tabel 4. Sebaran analisis statistik dan pengujian taksiran berat badan lahir menurut rumus Johnson dan modifikasi rumus Johnson-Syahrir untuk berat lahir keseluruhan (n=263)
IV. DISKUSI
Sebaran kasus berdasarkan TFU Johsonterletak pada rentang 28 sampai 40 cm dengan rata-rata 31,63 ± 2,22 cm sedangkan TFU Johnson-Syahrir terletak pada rentang 21 – 34 dengan rata-rata 25,16 ± 2,55 cm . Berat badan bayi lahir terletak pada rentang 2300 grsampai 4200 gr dengan rata-rata 3061,98 ± 350,87 gr.
Dari hubungan tinggi fundus uteri Johnson dengan berat badan bayi lahir didapatkan koefisien korelasi (r) adalah 0,678 dan koefisien determinasi (r2) adalah 0,460 dengan kemaknaan p = 0,000. Sedangkan koefisien korelasi (r) dari hubungan tinggi fundus uteri dengan berat badan bayi lahir Johson-Syahrir adalah 0,536 dengan koefisien determinasi (r2) adalah 0,288 dengan kemaknaan p = 0,000.
Akurasi taksiran berat badan janin dengan rumus Johnson mencapai 70,70% sedangkan dengan menggunakan modifikasi rumus Johnson-Syahrir hanya 65,0% yang akurat. Apabila dihitung secara statistik ditemukan perbedaan bermakna dimana p = 0,000.
Rumus Johnson memiliki hubungan positif yang sangat kuat antara tinggi fundus uteri dengan berat badan bayi lahir dibandingkan dengan modifikasi rumus Johnson-Syahrir dimana nilaikoefisien korelasi (r) sebesar 0,678 dan koefisien determinasi-nya 0,460 sedangkan modifikasi rumus Johnson-Syahrir, nilaikoefisien korelasi (r) sebesar 0,536 dan koefisien determinasi-nya 0,288.Nilai sensitivitas yang diperoleh sebesar 86,02%, nilai spesifisitas sebesar 85,71% serta nilai perkiraan positif dan negative sebesar 93,57% dan 71,74%. Nilai kappa yang diberikan sebesar 67,9%, nilai ini dapat menerangkan kesesuaian penghitungan taksiran berat badan bayi lahir dengan menggunakan rumus Johnson dibandingkan dengan modifikasi rumus Johnson Syahrir.
RUJUKAN
1.Niswander KR. Capraro VJ, Coevering RJ. Estimation of birth weight by quantitied external uterine measurements. Obstet Gynecol 1970; 36:204-8.
2.Cuningham FG, Mac Donald C, Gant NF. Manajemen kehamilan normal. Dalam : Ronardy DH editor. Obstetri Williams. Edisi 18 Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1995 p 295-3143.
3.Wan CW, Woo JSK. An evaluation of ultrasonic fetal weight prediction in a Chinese population using established charts on abdominal circumference and biparietal diameter. Obstet Gynecol 1984; 10:173-6.
4.Robson SC, Gallivan S, Walkinshaw SA, Vaughan J, Rodeck CH, Ultrasonic estimation of fetal weight use of targeted formulas in small for gestational age fetuses. Obstet Gynecol 1993; 82: 359-64.
5.Wiknjosastro H, Sumapraja S, Saifuddin AB. Perubahan anatomic dan pada wanita hamil. Ilmu Kebidanan FKUI, Edisi kedua, cetakan kedua, YBP Sarwono Prawiroharjo 1984: 81-93.
6.Turner MJ, Roasmussen MJ,Boylan PC, Mac Donald D, Strong JM. The influence of birth weight on labor in nulliparas. Obstetric and Gynecology 1990;76: 159-63.
7.Ment LR, Oh W, Ehrenkranz RA, Philip AGS, Duncan CC, Makuch RW. Antenatal steroid, delivery mode, and intraventricular hemorrage in preterm infants. Am J Obstet Gynecol 1995;172:795-800.
8.Tejani N, Mann LI, Weiss RR. Antenatal diagnosis and management of the small-for-gestational-age fetus Obstet Gynecol 1976;47: 31-6.
9.Boyd ME, Usher RH, MecLean FL. Fetal Macrosomia Prediction, Risk, proposed management. Obstet Gyencol 1983;63: 715-22.
10.Pschera H, Sodenberg G. estimation of fetal weight by external abdominal measurement. Acta Obstet Gyencol Scand 1984;63: 175-9.
11.Arrianto M, Dirjowioto AN. Perbandingan hasil antara taksasi berat janin secara palpatoir dan taksasi berat janin menurut Paulos-Langstadt terhadap berat lahir bayi sesungguhnya. Naskah lengkap KOGI III Medan 1976;589-593.
12.Warsof SL, Wolf P, Coulehan J, Queenan JT. Comparison of fetal weight estimation formulas with and without head measurements. Obstet Gyencol 1986;67:569-73.
13.Field NT, Piper JM, Langer O. The effect of maternal obesity on the accuracy of fetal weight estimation. Obstet Gyencol 1995;56: 102-7.
14.Chauhan SP et al. Lomitation of clinical an sonographic astimates of birth weight 1034 parturients. Obstet Gyencol 1998;91: 72-7.
15.Peterson RM. Estimation of fetal weight during labor. Obstet Gyencol 1985;65330-2.
16.Rosenberg K, Gram JM, Aitchison T. Measurement of fundal height as ascreening test for fetal growth retard. Br J Obstet Gyencol 1982; 89:447-50.
17.Mathai M, Jairaj P Muthurathnam S. Screening of light-for gestational age infants: a comparison of three measurement 1987; 94:217-21.
18.Mc. Fee JG. Comprehensive prenatal care. In:Frederickson HL, Haug LW. Ob/Gyn secrets. Boston, Massachustts:BookPromotion & Service CO, Ltd. 1997;156-164.
19.Walraven GER etal. Single pre-delivery symphysis-fundal height measurement as a predictor of birth weight and multiple pregnancy. British Journal of Obstetries and Gynecology 1995;102: 525-529.

Tidak ada komentar:

Paradok Masa Kini

Kita mempunyai gedung yang semakin tinggi,
tapi kesabaran yang semakin rendah.

Jalan yang semakin lebar,
tapi sudut pandang yang semakin sempit.

Semakin banyak membelanjakan,
tapi semakin sedikit yang dimiliki.

Semakin banyak membeli,
tapi semakin sedikit yang dinikmati.

Punya rumah semakin besar,
tapi kehidupan rumah tangga yang semakin terpencil.

Semakin banyak tersedia kesenangan,
tapi semakin sedikit waktu untuk menikmatinya.

Semakin banyak pengetahuan,
tapi semakin sedikit kebijaksanaan.

Semakin banyak para ahli,
tapi justru semakin banyak pula masalah.

Semakin banyak obat,
tapi juga semakin sedikit ketenangan.

Kita memiliki semakin banyak barang dan kepemilikan,
tapi semakin berkurang nilainya.

Kita semakin banyak bicara,
tapi semakin sedikit mencinta dan semakin banyak membenci.

Kita belajar untuk mencari nafkah penghidupan,
tapi gagal menemukan kehidupan.

Kita telah menambah semakin banyak tahun dalam kehidupan,
tapi gagal untuk menikmati kehidupan dalam tahun-tahun yang dijalani.

Kita berhasil pergi ke bulan dan kembali,
tapi masalah untuk pergi ke depan rumah untuk menemui tetangga.

Punya penghasilan yang lebih tinggi,
tapi moralitas yang semakin rendah.

Kita belajar untuk membuat udara lebih bersih,
tapi kita mengotori jiwa kita sendiri.

Kita belajar untuk memisahkan atom-atom,
tapi tak sanggup memisahkan prasangka-prasangka buruk kita.

Kita memiliki kuantitas yang berlimpah ruah,
tetapi kualitas yang semakin langka.

Ini adalah waktu dimana ada orang semakin tinggi posturnya,
tapi makin pendek karakter kepribadiannya.

Keuntungan finansial membumbung tinggi,
tapi hubungan dengan sesama semakin dangkal.

Ini adalah masa kedamaian dunia,
tapi perang dalam keluarga.

Makin banyak hiburan,
tapi makin sedikit rasa kebahagiaan.

Makin banyak makanan,
tapi makin berkurang nutrisinya.

Ini adalah saat di mana keluarga berpenghasilan ganda,
tapi perceraian di mana-mana.

Makin banyak rumah yang indah,
tapi semakin banyak rumah tangga yang pecah ….

Situsq

Oh ya jika anda ingin mengirim email atau memberi komentar silahkan anda kirim via situs sahrulcau@yahoo.co.id

CHY

CHY
Adalah salah satu siswi SMK Kesehatan Terpadu Mega Rezky Makassar Jurusan Keperawatan TP. 2007/2008

R. Konsultasi Dokter

Patient:

Dok Aq mau nax...

Selama ini kulit kelamin saya ada bintik putih trus apakah itu tidak berpengaruh pada p*n*s saya itu.

Trus apakah saat melakukan hubungan intim air mani ditahan agar tidak keluar tuk menghindari kehamilan istri saya dok tanpa menggunakan alat kontrasepsi itu apa nggak mempengaruhi t*st*s?

Makasih dok sebelumx atas infox.....
By : Alex

Dokter:

Rasa gatal pada umumnya, mengindikasikan adanya infeksi jamur.

Sedangkan kulit yang mengering yang mudah meluruh lebih mengarah keproses alergi atau penyakit autoimun.

BIla anda mengalami hal ini lebih dari 1 minggu dan sudah berulang,saya anjurkan anda berkonsultasi dengan dokter spesialis kulit dankelamin.

Air mani yang ditahan keluar umumnya untuk mencegah kehamilan. Bahkansalah satu teknik kontrasepsi adalah untuk mengeluarkan air mani diluar vagina. BIla anda tidak mengeluarkan air mani, tentu saja initidak berefek membahayakan. Air mani jika ditahan suatu saat akankeluar juga, seperti saat tidur, atau pada kondisi tertentu.

semoga berguna
dr. Yunita Maslim
Tim KonsultasiTanyaDokterAnda
Dapatkan artikel kesehatan terbaru di

http://www.tanyadokteranda.com/

3 P U

Post Date : July 6th 2008, 00:44

Wanita memiliki pesona yang membuat seseorang (baik laki2 maupun perempuan itu sendiri) tertarik & terpikat. Pesona itu adalah 3 P U (Tiga Pesona Kamu).



P Pertama "Payudara kamU"
P1 ini adalah berupa tonjolan dibagian dada perempuan dan sangat diminati oleh setiap insan yang tertarik kepada kamu yang biasa juga disebut "TT: (Te-Te')" atw buah dada yang memiliki bulatan kecil di puncak bukit tersebut yang dinamakan "puting" (cum-cum).



P Kedua "Pusar / Pusat Kamu"
P2 ini terletak pas dipertengahan yang membagi 2 wilayah tubuh kita, coba diukur sendiri dari kepala hingga pusat / pusar sama panjang dari kaki ke pusar tersebut. Ini adalah pesona yang kedua setelah payudara, bentuknya berupa lubang kecil tempat bersambungnya ari-ari diwaktu kita masih dalam kandungan yang berfungsi untuk mengangkut sari-sari makanan dari rahim seorang ibu menuju ke janin, letaknya di perut kita.



P Ketiga "Pussy mu"
P3 ini memang agak jarang ditampilkan apalagi dipertontonkan, wajar saja "Pussy" kedudukanx paling 'tinggi' dan paling 'hina', why?...
Anda pasti mengerkan klw "Pussy" ini tempatx tertutup dan tidak terbuka untuk umum hanya 'some one' yang bisa melihatnya itupun sebenarx dilarang untuk melihat 'Pussy' itu. Siapakah dia yang "Can See"???
1. Yang empunya (pemiliknya)
2. Yang membelinya (suaminya)
Nah kamu juga perlu tahu "Pussy" bukanlah nama hewan peliharaan seperti kucing tapi 'Pussy' adalah sejenis benda elastis / karet yang bisa melebar dan menyempit, sesuai dengan respon dan rangsangan yang diterimax.
"Pussy" ini memiliki peranan yang sangat penting dalam dunia dan kehidupan manusia antara lain:
a. Merupakan t4 jalan keluarx air seni, haid & adek bayi.
b. T4 mendapatkan kenikmatan sesaat (Surga duniawi) "Sex Chanel".
c. T4 yg paling menyesatkan & membawa manusia ke Neraka Akhirat (artix manusia yang tidak berhak atas itu).
Jadi kamu dah taukan apa itu PUSSY ???


June 8th 2006 at : 05.18 am (sahrul red.)